Sabtu, 25 Januari 2014

Mengapa Ayah Menangis?

Sore itu hujan deras mengguyur, disebuah pinggiran jakarta,terlihat seorang bapak setengah baya dengan tergopoh-gopoh mendorong motornya yg  tiba-tiba mogok di jalan, sekujur tubuhnya  basah kuyup dan sedikit terlihat menggigil menahan dinginnya hempasan angin di sertai hujan yg menusuk-nusuk seluruh sendi tulangnya bak jarum-jarum kecil.

Alkisah pria tersebut pun menepi di sebuah halte yg sepi, ia memilih untuk tidak terlalu memaksakan fisiknya yg mulai melemah. di pinggiran halte ia parkir sepeda motor bebeknya itu, ia pun duduk sambil mengibas-ngibaskan pakaiannya dengan maksud agar baju yg ia pakai tidak terlalu basah
kuyup. belum lama ia duduk di halte tersebut, tiba ada sepasang anak muda lelaki dan perempuan berjilbab putih yg ikut menepi di halte itu, sepertinya mereka anak-anak SMU, tapi anehnya sore
itu adalah hari sabtu, seharusnya anak-anak sekolah sudah pulang sejak siang tadi. karena pemandangan tersebut sudah lumrah di kota besar (jakarta), maka si bapak tidak terlalu mempedulikan mereka berdua hingga si bapak tersebut mendengar suara perempuan yg ia rasa tidak asing di telinganya, maka ia pun berbalik menjadi penasaran, kedua remaja tersebut duduk tanpa melepaskan helm mereka sehingga wajah mereka pun tampak samar.

Bapak tersebut berinisiatif untuk mendekati mereka berdua dan alangkah terkejutnya si bapak begitu
pula perempuan muda tersebut, tapi entah karena alasan apa bapak itu cuma
bilang “maaf dek klo boleh tau bengkel motor terdekat dari sini dimana ya??”
maka si pemuda SMU tersebut memberi tau detail-detail lokasi dan alternatif tempat lain yg di rasa akan membantu permasalahan bapak tersebut. sedangkan sang perempuan muda hanya tertunduk malu, entah karena apa sepertinya hanya mereka berdua yg tau (bapak dan perempuan muda)
Singkat cerita si bapak pun pergi berlalu mencari bengkel yg ia cari, setelah ia selesai menservis motornya ia pun memacu motornya untuk segera pulang karena senja semakin menguning,begitu sampai di rumah sang bapak di sambut manis oleh istrinya yg sudah lama menunggu dengan cemas .

“Bapak kok tumben pulangnya sore?? ibu khawatir loh pak?!”
“Iya bu…tadi motor tiba-tiba mogok, mana hujan deras lagi, tapi untung cuma masalah busi”

“Oia bu..putriana mana??”
“Iya nih pak ibu juga cemas, tadi pagi sih pamitannya sehabis sekolah mau langsung ke tempat temennya untuk belajar atau ada kegiatan apa gitu, ibu lupa…”

“Oh….ya sudah mudah-mudahan anak kita baikbaik aja, mungkin karena hujan jadi dia agak terlambat”
“Iya pak ibu juga berharap begitu.." Belum sempat si bapak beranjak ke kamar mandi, terdengar suara ketukan pintu. 

“Assalamu’alaikum??”
“Wa’alaikum salam”
Si ibu mau membuka pintu langsung di cegah sama si bapak. ”biar bapak bu
yg buka..”
“Pak jangan di marahi ya anak
kita,kasihan…”
“Ibu tenang saja bapak gak bakal marah-marah kok”

Pintu pun di buka oleh si bapak dan sesosok perempuan muda yg ia jumpai
di halte tadi terlihat tertunduk lesu tanpa berani mengangkat sedikit pun mimik wajahnya.

“Ana ayo masuk nak nanti kamu masuk angin…” tegur sang bapak
kepada perempuan muda tersebut yg tidak lain tidak bukan adalah putrinya sendiri.
”ayo masuk nak kamu kenapa sih kok mukanya pucet sakit ya?” sambung ibunya.

“Ya sudah biar putriana aja dulu bu yg mandi, air hangat untuk bapak biar di
pake dulu,bapak mau bersih-bersih motor dulu” si bapak pun keluar rumah
menuju motor kesayangannya.

“Ayo putri..kamu kenapa sih nak??” tanya si ibu
“Enggak kok bu…cuma kedinginan”
“ya sudah mandi dulu sana pake air hangat, ibu mau ngerebus air buat bapak kamu”
“Iya bu…”

Singkat cerita malam itu suasana rumah menjadi agak canggung dimata
putriana. ia merasa sangat malu dengan kejadian tadi sore di halte, dimana sang ayah mengetahui bahwa anaknya jalan sama cowok, padahal hal tersebut dilarang oleh ayahnya, namun ia masih tak habis pikir kenapa ayahnya tidak langsung memarahinya saat di halte malahan pura-pura tidak kenal anaknya sendiri. hal ini benar-benar membuat putriana gelisah.

Ketika putriana keluar dari kamar ia jumpai ibunya sedang menina bobo adeknya yg masih berusia 4 tahun di depan TV yg merangkap sebagai ruang tamu, karena sang ibu ikut tertidur
maka putriana pun sangat hati-hati saat mencoba membuka pintu depan, setelah membuka pintu depan rumahnya ia dapati sang ayah sedang duduk-duduk sendirian di teras rumah, sang ayah terlihat murung dan sedih. semakin dekat putriana melangkah, semakin jelas bahwa sang ayah
sedang menangis, airmatanya mengalir membentuk garis-garis seperti anak sungai
yg di lihat dari ketinggian. air mata sang ayah berkilat-kilat terkena pantulan cahaya lampu teras.

Putriana pun duduk di depan ayahnya ambil tertunduk malu. ia tidak berani membuka perbincangan karena ia sadar bahwa segala alibi yg ia ucap pasti malah menambah kesalahannya di mata sang ayah.

“Bapak sedih…. bapak kecewa pada diri bapak sendiri, ternyata selama ini bapak terlalu percaya diri dengan cara bapak mendidik kamu, bapak terlalu sombong di hadapan Alloh subhaanahu wa ta’ala sehingga bapak memandang sebelah mata do’a untuk kebaikan anak yg seharusnya bapak panjatkan setiap pagi dan ore, maafkan bapakmu nak atas sikap bapak tadi sore yg berpura-pura tidak
mengenalimu, bapak sangat malu menjumpai anak kesayangan bapak sendiri dalam keadaan seperti
itu, berduaan dengan lelaki sementara bapak sudah tanamkan sebelumnya ke anak bapak bahwa perbuatan itu diharamkan dalam Agama, tetapi ketika bapak menemui kenyataannya sore tadi, bapak mulai sadar ternyata apapun yg bapak ajarkan ke anak tidak ada gunanya, tidak di ambil maknanya
sehingga bapak semakin sadar bahwa bapak memang orang bodoh tidak pernah sekolah seperti kamu, bapak hanya orang dusun yg mencoba mengadu nasib di jakarta dengan harapan bisa menyekolahkan anak agar nasibnya jauh lebih baik dibandingkan bapaknya, bapak akui memang bapak bodoh nak. sebenarnya bapak cuma menjalani tanggung jawab saja sebagai org tua yg wajib mendidik anak-anaknya namun bila mana anak punya pilihan hidup sendiri bapak hanya bisa berdo’a agar ana tidak salah melangkah“

Putriana pun langsung bersimpuh dan berlutut di hadapan sang ayah, ia pegang telapak tangan ayahnya dan ia cium serta ia benamkan kepalanya di pangkuan sang ayah sambil menangis
sejadi-jadinya.

“Maafin putriana ayah, maafin kesalahan putri,maafin kelancangan putri yg sudah berani melanggar pesan bapak”

“Sudahlah jangan buat ibumu terbangun dan tahu masalah ini karena nanti hanya menambah kesedihannya saja. sudah..sudah  bapak sudah maafin kamu sejak kamu pulang tadi. bapak minta kamu lebih bijak lagi ya menanggapi nasehat orang tua,semua demi kebaikanmu
sendiri bukan utk kepentingan orang
tuamu”

Putriana benar-benar seperti baru terbangun dari tidur panjang, ia seakan baru sembuh dari pengaruh bius setan yg melenyapkan kesadarannya, ia begitu malu pada dirinya sendiri karena telah berani lancang terhadap sang ayah yg sedemikian bijak membimbingnya, membesarkannya dengan penuh kasih sayang dan berbagai pengorbanan lainnya yg tak ternilai demi kebaikan dirinya.

Semenjak hari itu putriana berubah total, ia memilih menghindar dari pergaulan teman-temannya yg selama ini selalu mengajak untuk berhura-hura, pacaran, etc. kini ia lebih banyak menghabiskan
waktunya di perpustakaan sekolah, meski hal tersebut mendapat banyak reaksi negative dari teman-temannnya. namun ia jalani dengan sabar dan memberi penjelasan kepada mereka secara bijak.

Kini ia tahu bahwa kebahagiaan yg selama ini di cari oleh banyak orang ternyata salah satunya ada pada perbuatan berbakti kepada kedua orang tua.